
Batik merupakan hasil kebudayaan asli bangsa Indonesia yang mempunyai nilai tinggi dan dikenal masyarakat Indonesia sejak ratusan tahun yang lalu. Awalnya hanya digunakan untuk pakaian raja-raja di Jawa pada jaman dahulu. Kini, batik berkembang menjadi pakaian sehari-hari masyarakat Jawa, bahkan batik sudah menjadi pakaian nasional bagi masyarakat Indonesia dan digemari oleh masyarakat mancanegara. Di daerah-daerah tertentu saat ini banyak dijumpai industri batik yang umumnya masih bersifat tradisional sebagai pekerjaan sambilan. Hasil kerajinan batik tradisional tersebut mempunyai gaya, corak, motif dan pewarnaan yang khas dan berbeda-beda.


Batik Wardah sendiri, kecuali memproduksi batik tulis murni, memproduksi pula batik cap, semi batik tulis dan batik printing. Adapun jumlah batik yang diproduksi dalam setiap bulannya mencapai sekitar 712. Terdiri dari batik tulis murni sebanyak 12 lembar, semi batik tulis sebanyak 200 lembar dan batik printing sebanyak 500 lembar. Produksi batik sebanyak itu dikerjakan oleh 40 orang pembatik dan 2 orang tenaga pewarnaan.
Selama ini Triono memang mengakui rasa kekhawatirannya akan keberadaan batik tulis Gumelem, karena pelaku seni rupa dua dimensional itu rata-rata didominasi oleh pembatik berusia 50 tahun ke atas dan hanya sedikit sekali pembatik yang berusia 50 tahun ke bawah. Karena itu dalam rangka ikut melestarikan keberadaan batik tulis Gumelem, Triono dan Nanik Suparni telah melakukan regenerasi dengan melatih beberapa generasi muda di sekitarnya, termasuk memberikan kesempatan kepada para siswa yang ingin belajar membatik, katanya.
Menyinggung tentang memasaran, selama ini tidak ada masalah kerena para pembeli pada umumnya datang sendiri ke lokasi. Sebagian besar hasil produksinya adalah berdasarkan pesanan dan sebagian lagi ada yang memasarkan di daerah Semarang dan Jakarta. Batik produksi Wardah di jual dengan harga antara Rp 150 ribu hingga Rp Rp 500 ribu.
Adapun motif yang sering diproduksi Wardah diantaranya Dawet Ayu, Salak Langsat, Salak Kawung, Buah Naga, Semanggen Kembar, Pisang Bali, Pakis Haji, Sirongge, Raflesia, Rumpt laut, Pring Sedapur, Pring Setetek, Parang Mrica, Laras Pongas, Sekar Kupu dan motif lainnya.


Kami sudah terlalu cinta dengan batik, seni itu indah dan memberikan manfaat banyak bagi kehidupan masyarakat, ucap Mu’minah mengawali bincang-bincangnya dengan suarajateng.com. Menurut Mu’minah, karya seni dua dimensional seperti batik tulis tidak hanya dimiliki oleh orang-orang yang memiliki bakat seni. “Sinten mawon saged mbatik sing penting onten niat”, ucap Mu’minah dalam bahasa Banyumasan yang kurang lebihnya adalah “Siapa saja bisa mewujudkan gagasan kreatifitas itu asalkan ada kemauan keras dan didukung dengan pengetahuan tentang ilmu batik maka setiap orang bisa melakukannya”. Perajin batik yang namanya sudah tidak asing lagi di kalangan Pegawai Negeri Sipil itu mengaku mulai membatik sejak masih jaman penjajahan Jepang, waktu itu masih duduk di bangku Sekolah Rakyat (SR). gagasan estetika yang mengandung seni budaya itu tidak di peroleh dari hasil pendidikan seni di bangku sekolah melainkan hasil transferan dari orang tuanya Ny. Satem (almarhumah) yang juga sebagai pembatik. Mu’minah memang sudah tidak muda lagi, meski begitu ia tidak mau berpangku tangan mengandalkan belas kasihan dari anak-anaknya. Dalam sisa hidupnya ia akan terus berusaha mengabdikan dirinya dalam dunia seni dua dimensional atau batik tulis, katanya.
Mu’minah, mengembangkan batik secara mandiri baru sekitar tiga tahun terakhir ini, dengan modal pinjaman dari PNPM sebesar Rp 1.000.000,-. Sebelumnya ia hanya sebagai tenaga pembatik pada pengusaha lain di Gumelem Kulon.
Dalam galerinya yang terbuat dari bahan bambu, Mu’minah tidak bekerja sendirian, tetapi dibantu oleh 15 orang yang semuanya ibu rumah tangga. Setiap bulannya Mu’minah dibantu oleh seorang anaknya Misriyah (37 th) dan 15 orang pembatik lainnya mampu menghasilkan antara 50 sampai 60 lembar batik tulis murni. Kisaran harganya dipatok antara Rp 180 ribu hingga Rp 350 ribu/lembar tergantung bahan baku yang digunakan dan tingkat kesulitannya. Dari hasil karyanya itu, sebagian besar untuk memenuhi pasar lokal Banjarnegara dan Purbalingga. Sambil terus mengayunkan cantingnnya di atas kain putih, Mu’minah dengan wajah yang masih menyisakan kecantikannya menuturkan tentang keluhan yang menyangkut permodalan. Selama menjadi seorang pembatik, Mu’minah sering kebingungan memperoleh modal untuk membeli bahan baku kain dan obat-obatan di Sokaraja. Ia baru bisa membeli bahan baku jika hasil karyanya sudah laku, katanya. Menyinggung tentang proses pembuatan kain batik, secara singkat Mu’minah menjelaskan bahwa membatik adalah menuliskan malam yang dicairkan di atas kompor pada kain yang sudah dipola sebelumnya dengan menggunakan canting. Kain yang sudah selesai ditulis itu kemudian diberi warna dengan cara dicelup. Proses pencelupan bisa berulang-ulang tergantung jumlah warna yang dikehendaki. Maka jangan kaget jika satu lembar kain batik waktu yang dibutuhkan bisa mencapai satu sampai dua minggu, sedangkan untuk kain batik yang halus bisa mencapai setengah sampai satu bulan. Motif batik Gumelem sebagian besar diambilkan dari alam pedesaan, seperti motif Lumbon, Kopi Pecah, Pring Sedapur, Pring Setetek, Parang Cendol, cebong kumpul dan masih banyak sekali motif-motif alam pedesaan lainnya.
sumber: suarajateng.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar